Kisah Menyedihkan Dibalik Kecelakaan Pesawat

Kabar mengenai kecelakaan udara yang sangat mengerikan, secara cepat menimbulkan sebuah pertanyaan keselamatan perjalanan udara yang akan kalian lakukan. Padahal jumlah kecelakaan pesawat jauh lebih kecil dan juga lebih sedikit dibandingkan dengan kecelakaan yang terjadi pada kendaraan yang di darat. Banyak orang yang mulai berspekulasi tentang apa yang menjadi sebuah pemicu kecelakaan dari si burung besi, meskipun transportasi udara itu memiliki sebuah aturan yang sangat rumit dan juga cukup ketat dalam operasionalnya, serta sudah dinyatakan sebagai sebuah moda transportasi yang paling aman yang bisa digunakan oleh kebanyakan orang.

Menurut data yang dikeluarkan oleh Bureau of Aircraft Accident Archives, tahun 2017 merupakan salah satu tahun teraman sepanjang sejarah penerbangan, dengan hanya 51 kecelakaan pesawat dan 282 korban jiwa. Dari ke-51 insiden nahas tersebut, ada setidaknya 5 maskapai yang diklaim mengalami kecelakaan terfatal. Otoritas tangkasnet online berwenang setempat pun berhasil menguak hal yang menjadi penyebab kecelakaan pesawat itu. Ada apa dengan kisah di baliknya? Berikut ini adalah penjelasan yang ada mengenai kecelakaan pesawat yang paling menyedihkan.

Musibah Bandara Tenerife – Spanyol

Kejadiannya pada tanggal 27 maret 1977 pada pukul 17.06 waktu setempat. Kematian atas kejadian ini sekitar 583 orang. Lokasinya berada di Bandara Udara Internasional Los Rodeos, Spanyol. “Kengerian kecelakaan itu telah terungkap, tetapi hal yang membuatnya sangat tak terlupakan adalah serangkaian ironi dan ketidaksengajaan yang mengejutkan,” kata penulis dan juga pilot Patrick Smith.

Kecelakaan yang kini dikenang sebagai Musibah Bandara Tenerife itu terjadi di Tenerife North Airport (sebelumnya Los Rodeos), Kepulauan Canary, Spanyol, pada 40 tahun yang lalu. Pesawat yang terlibat kecelakaan yakni Pan Am (Amerika) dengan nomor penerbangan 1736 (di bawah kendali Kapten Victor Grubbs) dan KLM (Belanda) dengan nomor penerbangan 4805 (di bawah kendali Kapten Jacob Veldhuyzen van Zanten). Kedua kapal terbang ini bertabrakan di landasan pacu yang kala itu kondisinya berkabut. KLM 4805 melakukan take off atau tinggal landas di saat Pan Am 1736 sedang berjalan menuju landasan yang sama.

Sebelumnya, kedua pesawat tersebut dialihkan menuju Bandara Los Rodeos, menyusul terjadinya ledakan bom di sebuah toko bunga yang berada di bandara tujuan semula, yaitu di Las Palmas. Kedua pesawat bertabrakan ketika sama-sama akan meninggalkan Tenerife untuk terbang ke Las Palmas. KLM 4805 melakukan take off tanpa izin dari Air Traffic Controller (ATC) di saat Pan Am 1736 sedang menyeberangi landasan yang sama untuk bersiap berangkat. Pilot KLM sempat mencoba memaksa pesawatnya tinggal landas, namun baru mencapai 100 kaki, pesawatnya menabrak Pan Am. Bagian perut KLM (badan tengah pesawat) meledak dan robek hingga ke belakang, kobaran api raksasa pun muncul. Seluruh penumpang dan kru pesawat KLM, tewas. Masing-masing 234 orang dan 14 awak. Sedangkan untuk Pan Am, 9 dari 16 awak dan 265 dari 317 penumpang, dinyatakan meninggal. Total keseluruhan korban jiwa adalah 583 orang. Investigasi menunjukkan bahwa, selain usaha lepas landas pesawat KLM tanpa izin ATC, kecelakaan tersebut juga disebabkan oleh kebingungan pilot kedua pesawat karena instruksi dari petugas ATC masalah bahasa. Logat Spanyol yang kental yang diutarakan oleh petugas ATC, rupanya membingungkan kedua pilot. Selain itu, pilot KLM juga tidak menggunakan bahasa standar penerbangan saat berkomunikasi dengan petugas ATC (bersifat ambigu, sehingga membingungkan ATC). Kondisi ini diperparah dengan peralatan komunikasi dan peralatan darat lain yang tidak memadai untuk mengawasi pergerakan pesawat. Pun dengan kondisi cuaca yang berkabut tebal, yang menyelimuti daerah itu ketika kecelakaan maut tersebut terjadi. Menurut bukti yang dikumpulkan, pilot Pan Am sempat terkejut dan panik ketika melihat moncong KLM tiba-tiba muncul dari balik kabut tebal.

Japan Airlines Penerbangan 123 – Jepang

Kecelakaan tersebut terjadi pada tanggal 12 Agustus 1985 pada pukul 6.56 waktu setempat. Korban yang mati pada insiden tersebut berkisaran 520 orang. Lokasinya berada di Mount Osutaka, Ueno, Prefektur Gunma, Jepang. Kecelakaan pesawat terbesar kedua dalam sejarah penerbangan adalah jatuhnya pesawat Boeing 747 milik Japan Airlines, dengan nomor penerbangan 123, di Gunung Takamagahara, di Jepang tengah. Dari 524 orang yang berada di dalamnya, hanya 4 yang lolos dari maut, meski mengalami cedera serius 509 penumpang dan 15 awak meninggal. Pesawat yang dikomandoi oleh Kapten Pilot Masami Takahama dan Kopilot Yutaka Sasaki ini lepas landas dari Bandara Haneda pada pukul 18.12 waktu setempat, 12 menit lebih dari jadwal yang ditentukan. Lalu, 12 menit setelah lepas landas (satu menit setelah critical eleven) dan ketika pesawat memasuki ketinggian jelajah di atas Teluk Sagami, tiba-tiba bagian penyekat buritan belakang pesawat pecah, sehingga menimbulkan ledakan dekompresi yang merobek ekor pesawat.

Terlepasnya bagian ekor ini merusak seluruh sistem hidrolik pesawat, mengakibatkan pesawat melayang-layang tak terkendali selama sekitar 30 menit, sebelum akhirnya jatuh menabrak gunung –dalam masa-masa ini, banyak korban menulis surat perpisahan untuk keluarga mereka. Menurut investigasi yang dilakukan oleh Komisi Penyelidik Kecelakaan Pesawat dan Kereta Api Jepang, sebenarnya pilot hendak melakukan pendaratan darurat dan telah menjaga laju pesawat di udara selama 32 menit. Mula-mula, kembali ke Bandara Haneda di Tokyo, tempat pesawat ini lepas landas. Namun, pesawat semakin tidak terkendali. Pilot pun mencoba terbang menuju pangkalan Angkatan Udara Amerika Serikat di Yokota. Sayangnya, semua usaha tersebut sia-sia. Pada pukul 18.56 waktu setempat, JAL 123 hilang kontak dengan radar. Pesawat tersebut menabrak puncak pertama Gunung Takamagahara, lantas menabrak puncak kedua, lalu terbalik dan menghantam tanah dengan bagian punggung pesawat mendarat terlebih dahulu. Berdasarkan keterangan tim penyelidik, ekor pesawat JAL 123 ternyata pernah tersenggol dalam sebuah pendaratan di Bandara Itami pada 2 Juni 1978. Ekor pesawat itu kemudian tidak diperbaiki dengan sempurna oleh teknisi Boeing dan Japan Airlines, yang menyebabkan berkurangnya kemampuan penyekat bertekanan bagian belakang (rear pressure bulkhead) dalam menahan beban tekanan selama penerbangan. Kealpaan ini disebut menjadi faktor utama penyebab kecelakaan fatal tersebut. Pasca Insiden, Presiden Japan Airlines, Yasumoto Takagi, memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Di Haneda, manajer perawatan Japan Airlines, memutuskan untuk bunuh diri akibat tidak kuat menanggung rasa malu yang telah ditimbulkannya kepada perusahaan. Ia meninggalkan sebuah catatan kecil yang berbunyi, “Saya tebus dengan kematian sendiri”.

Kini, sebuah kuil telah dibangun di lokasi kejadian, sebagai bentuk dedikasi untuk mengenang para korban. Selain itu, ada pula sebuah museum yang dibuka oleh maskapai penerbangan, yang mencakup surat-surat dan catatan terakhir yang ditulis oleh penumpang kepada orang-orang terkasih.

Bagaimana sangat menyedihkan dan menyeramkan bukan kematian dari kecelakaan yang terjadi di dua negara tersebut, ini hanya dua saja yang dijelaskan betapa menyedihkannya kecelakaan tersebut.